Etika Komentar di Sosmed: Jangan Sampai Jempolmu Jadi Dosa


Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling TikTok atau IG, terus nemu konten yang bikin "panas" dan tangan rasanya gatal banget ingin ngetik komentar pedas? Hati-hati, Sob! Di dunia digital yang serba sat-set ini, jempol kita sering kali lebih cepat daripada logika.

Padahal, dalam Islam, apa yang kita ketik itu sama beratnya dengan apa yang kita ucapkan. Biar aktivitas medsosmu tetap berkah dan nggak bikin saldo dosa numpuk, yuk simak etika berkomentar biar vibes sosmed kamu makin positif!


1. Filter Dulu Sebelum Ketik, Jangan Asal "Gaspol"

Sering banget kita terjebak rasa FOMO buat ikut-ikutan nge-hujat hal yang lagi viral. Padahal, kita belum tentu tahu kebenarannya. Islam mengajarkan tabayyun (cek dan ricek). Jangan sampai niatnya ingin kritis, malah jatuhnya fitnah. Sebelum klik send, tanya ke diri sendiri: "Komentar ini bermanfaat nggak ya, atau cuma nambah polusi di kolom komentar?"

2. Jaga "Vibes" Tetap Adem, Hindari Toxic Talk

Sosmed itu seharusnya jadi tempat yang asyik, bukan malah jadi ring tinju virtual. Menggunakan kata-kata kasar, menghina fisik (body shaming), atau merendahkan orang lain itu red flag banget!

Ingat, setiap huruf yang kamu ketik bakal dicatat sama malaikat. Jadi, daripada bikin orang lain mental breakdown, mending kasih komentar yang bikin mereka ngerasa didukung atau terinspirasi.

3. Niatnya Ngingetin, Bukan Bikin Malu

Pernah lihat orang salah terus ditegur di kolom komentar sampai jadi konsumsi publik? Nah, itu bukan nasihat namanya, tapi mempermalukan. Kalau kamu lihat ada konten teman yang kurang pas secara syariat, coba deh jalur Private Message (DM). Itu jauh lebih sopan dan menunjukkan kalau kamu emang peduli, bukan sekadar ingin kelihatan paling bener di depan netizen lain.

4. Jangan Jadi "Hakim Netizen" yang Haus Validasi

Banyak orang merasa paling suci dengan menghakimi hidup orang lain lewat komentar. Padahal, kita nggak pernah tahu perjuangan orang di balik layar. Daripada sibuk ngurusin dosa orang lain sampai lupa dosa sendiri, mending fokus buat perbaikan diri. Jadikan medsos sebagai sarana buat healing mental, bukan malah bikin hati makin keras karena hobi nyinyir.

5. Ingat, Jejak Digital Itu Abadi (Dan Dibawa Sampai Akhirat)

Mungkin kamu bisa hapus komentar setelah di-bully balik, tapi jejak digital dan catatan amal nggak bakal hilang gitu aja. Jangan sampai jempolmu jadi penghalang kamu masuk syurga cuma gara-gara satu komentar jahat yang bikin sakit hati orang lain.


Kesimpulan: Sosmed Santun, Hati Pun Tenang

Main sosmed itu boleh banget, tapi tetap pakai etika ya. Gunakan jempolmu buat menyebarkan kebaikan, kasih support, atau sekadar berbagi tawa yang sehat. Kalau kolom komentar dipenuhi hal-hal baik, scrolling medsos pun jadi berasa healing beneran, kan?

Referensi lain, silahkan kunjungi link ini : InspirasiX
Mau tratkir kopi, klik link ini : SociaBuzz
Support, klik link ini : Saweria
NgopIslami.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar