Kisah Inspiratif KH Abdul Hamid Pasuruan: Dari Pedagang Kain hingga Menjadi Guru Besar Para Ulama


KH Abdul Hamid Pasuruan adalah salah satu sosok ulama besar dan waliyullah (kekasih Allah) yang paling dihormati di Nusantara, khususnya di Jawa Timur. Beliau dikenal bukan karena tulisan kitabnya yang banyak, melainkan karena pancaran akhlak, spiritualitas, dan kedalaman ilmu batinnya.

Berikut adalah sejarah dan perjalanan hidup beliau:


1. Kelahiran dan Garis Keturunan

Beliau lahir dengan nama Abdul Mu'thi pada tahun 1914 di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Ayahnya bernama KH Abdullah bin KH Umar, seorang ulama di Lasem, dan ibunya adalah Nyai Hj. Raihanah.

Dilihat dari silsilahnya, KH Abdul Hamid merupakan keturunan ulama-ulama besar. Jalur ayahnya bersambung hingga ke para santri senior yang memiliki silsilah ke atas sampai ke Walisongo.

2. Masa Menuntut Ilmu (Pencarian Spiritual)

Sejak kecil, Abdul Mu'thi dididik dalam lingkungan pesantren yang ketat.

  • Pendidikan Awal: Beliau belajar dasar-dasar agama kepada ayahnya sendiri di Lasem.

  • Pesantren Termas: Di usia remaja (sekitar 12-13 tahun), beliau dikirim ke Pesantren Termas di Pacitan, yang saat itu diasuh oleh KH Dimyathi. Di sinilah beliau menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendalami ilmu alat (Nahwu-Shorof), Fiqih, dan Tasawuf.

  • Perubahan Nama: Setelah menunaikan ibadah haji, nama beliau berubah menjadi Abdul Hamid, sebuah tradisi yang umum di kalangan masyarakat saat itu.

3. Hijrah ke Pasuruan

Kepindahan beliau ke Pasuruan bermula dari pernikahan. Beliau dinikahkan dengan sepupunya sendiri, Nyai Hj. Nafisah, putri dari KH Ahmad Qusyairi (seorang ulama besar yang menetap di Pasuruan).

Awalnya, beliau hidup sangat sederhana. Beliau tidak langsung memimpin pesantren besar, melainkan berdagang kain di pasar untuk menghidupi keluarganya. Hal ini menunjukkan sifat beliau yang sangat mandiri dan tidak mau bergantung pada pemberian orang lain.

4. Menjadi Pengasuh Pesantren Salafiyah

Setelah wafatnya sang mertua, KH Abdul Hamid perlahan mulai dikenal oleh masyarakat. Beliau kemudian menetap dan mengembangkan Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan. Di bawah asuhan beliau, pesantren ini menjadi magnet bagi para santri dan masyarakat dari berbagai penjuru daerah.

Beliau dikenal dengan gaya mengajar yang lembut dan penuh kasih sayang. Beliau jarang marah dan selalu menyambut tamu dengan wajah yang berseri-seri (sumringah).

5. Karomah dan Kewalian

KH Abdul Hamid sangat identik dengan julukan Wali Jadzab yang memiliki banyak karomah (keistimewaan). Beberapa kisah yang masyhur di masyarakat antara lain:

  • Kemampuan mengetahui isi hati seseorang sebelum mereka berbicara.

  • Kehadiran beliau di beberapa tempat secara bersamaan.

  • Doa-doa beliau yang dianggap sangat mustajab oleh para peziarah.

Namun, beliau selalu berpesan bahwa karomah yang paling utama adalah istiqomah dalam menjalankan syariat Allah dan mencintai sesama makhluk.

6. Wafatnya Sang Murabbi

KH Abdul Hamid wafat pada tanggal 9 Rabiul Awal 1403 Hijriah (bertepatan dengan 25 Desember 1982) di usia 68 tahun. Pemakaman beliau dicatat sebagai salah satu peristiwa paling emosional di Pasuruan, di mana ratusan ribu orang menyemut menyolatkan dan mengantarkan jenazah beliau ke peristirahatan terakhir di area pemakaman Masjid Al-Anwar, depan alun-alun Pasuruan.


Warisan Spiritual

Hingga saat ini, makam beliau di Pasuruan tidak pernah sepi dari peziarah. Setiap tahun, acara Haul KH Abdul Hamid selalu dihadiri oleh ratusan ribu jamaah dari seluruh Indonesia, menjadikannya salah satu acara haul terbesar di Tanah Air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar