Syaikhona Kholil Bangkalan: Kisah "Gurunya Para Ulama" dan Poros Perjuangan Islam di Nusantara


KH Muhammad Cholil bin Abdul Lathif, atau yang lebih dikenal sebagai Syaikhona Kholil Bangkalan, adalah sosok sentral dalam sejarah Islam di Indonesia. Beliau bukan sekadar ulama besar, melainkan "Guru dari Para Guru" (Guro-ning Guru) yang menjadi poros berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Berikut adalah biografi dan sejarah lengkap beliau:


1. Kelahiran dan Garis Keturunan

Syaikhona Kholil lahir pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 Hijriah atau sekitar tahun 1820 Masehi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura.

Beliau berasal dari keluarga ulama kelas atas. Ayahnya, KH Abdul Lathif, adalah seorang ulama yang taat. Jika ditarik garis keturunan ke atas, silsilah beliau bersambung hingga ke Sunan Gunung Jati (Cirebon), yang berarti beliau masih memiliki garis keturunan dari Rasulullah SAW melalui jalur Syarif Hidayatullah.

2. Masa Menuntut Ilmu (Pencarian Cahaya)

Kehausan Syaikhona Kholil akan ilmu sangat luar biasa. Beliau menempuh pendidikan dengan penuh keprihatinan (tirakat).

  • Pendidikan Awal: Belajar dasar-dasar agama kepada ayahnya sendiri.

  • Pesantren di Jawa: Beliau berpindah-pindah pesantren, mulai dari Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Cangaan (Bangil), hingga Pesantren Keboncandi (Pasuruan).

  • Kisah Kemandirian: Saat di Pasuruan, beliau dikisahkan bekerja sebagai buruh petik kelapa untuk membiayai sekolahnya. Beliau tidak ingin merepotkan orang tua dan memilih hidup sangat sederhana.

  • Mekkah: Sekitar tahun 1860, beliau berangkat ke Mekkah. Di sana, beliau berguru kepada ulama-ulama besar dunia, salah satunya adalah Syeikh Nawawi al-Bantani.

3. Menjadi Guru Para Ulama Nusantara

Sekembalinya dari Mekkah, beliau mendirikan pesantren di Kademangan, Bangkalan. Beliau dikenal memiliki karomah (keistimewaan spiritual) dan kecerdasan luar biasa. Hampir seluruh pendiri organisasi besar Islam dan pengasuh pesantren legendaris di Jawa-Madura adalah murid beliau.

Murid-murid fenomenal beliau antara lain:

  • KH Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama).

  • KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah).

  • KH Wahab Chasbullah (Tokoh Penggerak NU).

  • KH As'ad Syamsul Arifin (Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Situbondo).

  • KH Bisri Syansuri (Pendiri Ponpes Denanyar Jombang).

4. Peran dalam Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Syaikhona Kholil adalah "penentu" berdirinya NU. Ketika KH Hasyim Asy'ari ragu untuk mendirikan organisasi, Syaikhona Kholil mengirimkan muridnya, KH As'ad Syamsul Arifin, untuk mengantarkan sebuah Tongkat dan Tasbih disertai ayat Al-Qur'an (Surat Thaha: 17-21).

Pesan simbolis ini bermakna restu dan perintah bahwa KH Hasyim As'ari harus menjadi pemimpin (pemegang tongkat) perjuangan ulama di Jawa. Tanpa restu Syaikhona Kholil, kemungkinan besar NU tidak akan berdiri pada tahun 1926.

5. Karomah dan Kepribadian

Dalam catatan sejarah dan lisan, Syaikhona Kholil dikenal sebagai ulama yang sangat mencintai ilmu, tawadhu (rendah hati), namun tegas dalam prinsip. Banyak kisah karomah beliau yang melegenda, seperti kemampuan beliau berada di beberapa tempat sekaligus atau mengetahui isi hati murid-muridnya. Namun, beliau selalu menekankan bahwa ilmu dan syariat adalah yang utama.

6. Wafatnya Sang Matahari Madura

Syaikhona Kholil wafat pada tanggal 29 Ramadhan 1343 H atau bertepatan dengan 24 April 1925. Makam beliau di Martajasah, Bangkalan, hingga hari ini tidak pernah sepi dari ribuan peziarah dari seluruh penjuru nusantara.


Warisan Syaikhona Kholil

Warisan terbesarnya bukanlah sekadar bangunan pesantren, melainkan jaringan ulama yang menjaga Islam moderat (Ahlussunnah wal Jama'ah) di Indonesia. Beliau adalah jembatan emas yang menghubungkan keilmuan Timur Tengah dengan tradisi lokal Nusantara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar